Khutbah Iedul Fitri Ahmad Heryawan:

Ramadhan, Zakat dan Prinsip Pemerataan Kesejahteraan

Assalamu’alaikum wr. wb.

Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar.
La Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillahil Hamdu

Rasa syukur kita haturkan untuk Sang Penguasa Alam, Allahu Rabbul ‘Alamin, yang senantiasa mengaruniai kita limpahan nikmat dan rahmat, hingga kita semua tak pernah sanggup untuk menghitungnya. Ungkapan syukur juga dituturkan atas nikmat hidayah, keislaman dan keimanan yang masih dilekatkan pada diri kita semua sehingga kita masih dapat berkumpul di tempat yang dirahmati Allah SWT. Rasa syukur tak terhingga juga kita tujukan kepada Ilahi Rabbi atas nikmat besar berupa kehadiran tamu mulia di tengah-tengah kita, bulan Ramadhan yang membawa berkah, rahmat dan maghfirah. Mudah-mudahan Ramadhan yang baru saja kita lewati ini dapat berbuah ampunan Allah SWT dan pembebasan diri dari azab neraka.

Hendaklah kita senantiasa memohon kepada Allah SWT agar Dia melimpahkan setinggi-tingginya penghargaan dan penghormatan kepada pemimpin kita bersama dan teladan kita bersama. Shalawat dan salam untuk manusia mulia, Rasulullah, Muhammad saw, yang telah bersusah payah mendakwahkan Islam hingga seruannya masih dapat bergema di hati kita hingga hari ini. Shalawat dan salam untuk imamul muttaqin (pemimpin orang-orang bertaqwa) dan qaa-idil mujahidin (panglima para mujahid) yang sebenar-benarnya nabiyullah Muhammad SAW berserta para keluarganya, sahabatnya dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Semoga Allah SWT menjadikan kita semua yang hadir di tempat ini, dipandang layak untuk dihimpun bersama mereka dalam kafilah panjang penuh berkah pada yaumil hisab kelak.

Terkadang kita tidak menyadari berjalannya waktu. Tanpa terasa kita tengah beranjak memasuki bulan Syawal, meninggalkan suatu bulan yang dihiasi oleh banyak hikmah dan Taujih Rabbani. Bulan Ramadhan, bulan paling mulia di sisi Allah telah bergegas pergi meninggalkan kita semua. Kita baru saja ditinggalkan suatu bulan yang memberikan kesempatan kepada manusia untuk datang bersimpuh di hadapan Sang Maha Pengampun mengakui berbagai kekeliruan, bertaubat dan memohon ampunan atas segala dosa. Bulan yang penuh dengan keistimewaan karena melatih kita untuk memahami penderitaan para fakir miskin, mengarahkan kita untuk menahan diri dari nafsu keduniaan, menganjurkan agar saling berbagi kebaikan, dan menjadi momen kita kembali pada fitrah. Bulan untuk menyambung kasih dan tali silaturahmi. Kini bulan Ramadhan, sebuah bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam nilainya lebih baik dari seribu bulan, sudah tidak bersama kita lagi. Pagi hari ini disaksikan oleh sinar mentari dan gerak riang dedaunan, kita telah memasuki bulan Syawal dan tengah berpadu untuk merayakan Idul Fitri sebagaimana dicontohkan oleh tuntunan kita Rasulullah, Muhammad saw.

Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar.
La Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillahil Hamdu

Jamaah Sholat Iedul Fitri yang dirahmati oleh Allah SWT,
Sebagai mahluk sosial, kita manusia tentu menyadari bahwa tidaklah mungkin kita hidup seorang diri. Sebagaimana juga tidak mungkinnya kita hidup hanya dengan kelompok yang sama saja. Adalah keniscayaan bahwa kita hidup di dunia akan selalu berada dalam keragaman dan perbedaan. Dan yang justru harus dilakukan oleh kita sebagai seorang muslim adalah hidup berbaur dan menjadi katalis kebaikan bagi teruwjudnya pergaulan yang saling menghargai dalam berbagai perbedaan dan keragaman tersebut. Inilah sesungguhnya yang Allah telah sampaikan melalui firman-Nya dalam surat Al Hujurat ayat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujurat 49 : 13)

Allah juga telah berfirman di dalam surat yang lainnya, yaitu surat Ar Ruum ayat 22:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan perbedaaan bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berilmu. (Q.S. Ar-Rum 30 : 22)

Dua ayat diatas jelas menegaskan bahwa keberagaman atau yang kita telah kenal sejak lama sebagai kebhinekaan merupakan kebesaran Allah dan fitrah kehidupan. Setiap muslim akan memahami ayat diatas sebagai suatu kewajiban untuk menghormati berbagai perbedaan yang ada, dan tidak akan pernah merendahkan orang lain yang berbeda dengannya. Inilah kesadaran yang harus dimiliki oleh setiap muslim dalam memahami kebhinekaan ini. Dengan kesadaran ini sejarah telah membuktikan bahwa kaum muslimin di Indonesia selalu siap dalam menjaga keharmonisan dalam kebhinekaan. Jadi, sebagai muslim kita tidak pernah ragu dalam menyikapi kebhinekaan dan keragaman. Pada sisi yang sama, kelompok lainpun juga jangan pernah meragukan komitmen kebihnekaan yang dimiliki oleh kaum muslimin. Islam memandang perbedaan yang ada sebagai suatu fitrah penciptaan dan kehidupan, bukan sekedar fakta kehidupan saja.

Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar.
La Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillahil Hamdu

Dalam konteks bernegara dimana telah menjadi konsensus seluruh elemen bangsa ini bahwa Pancasila adalah dasar negara, maka pemahaman yang perlu diperkuat oleh kita semua bahwa Pancasila merupakan nilai-nilai luhur dan konsep kehidupan yang lahir dan bersumber dari nilai-nilai agama maupun nilai-nilai budaya dan kearfian lokal yg tumbuh dan berkembang di indonesia. Karenanya, bagi seorang muslim, Pancasila adalah sebuah embedded sistem (sistem yang tertanam kuat) yang pasti akan dipahami dengan baik sebagai sebuah spirit dari saling mengenal dan bekerja sama dalam keragaman yang ada. Muslim yang baik akan senantiasa mendorong untuk bekerja sama dalam hal-hal yang disepakati dan bertoleransi dalam hal-hal yang berbeda. Bekerja sama dalam hal-hal yang disepakati jelas akan lebih baik dan lebih produktif daripada berselisih dalam hal-hal yang berbeda. Yang sangat penting sesungguhnya adalah bagaimana membangun dan mengisi negeri ini dengan berbagai program dan kegiatan pembangunan yang dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, bukan menggemakan teriakan yang mecabik kebersamaan dan persatuan sebagai sebuah bangsa.

Kesejahteraan seluruh rakyat dapat diperoleh dengan mengoptimalkan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia Indonesia (SDM). Pemberdayaan yang optimal dari kedua sumber daya yang dimiliki negeri ini akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang dapat menaikkan tingkat kesejahteraan bangsa ini. Inilah yang selama ini kita kejar dengan efforts yang maksimal untuk kemajuan negeri kita.

Selanjutnya yang juga sangat penting adalah pemerataan kesejahteraan yang didapat bangsa kita. Sebab pertumbuhan tanpa pemerataan hanya akan menimbulkan masalah sosial yang pada akhirnya dapat menurunkan tingkat kesejahteraan itu sendiri. Faktanya, di negeri kita pemerataan masih menjadi impian yang jauh dari kenyataan untuk saat ini. Data Gini Ratio Indonesia terakhir masih di angka 0,394 pada September 2016, turun sangat tipis dari sebelumnya di 0,397 pada bulan April 2016. Suatu angka yang menunjukkan masih cukup jauhnya mencapai pemerataan ideal yaitu di angka 0. Pada Januari 2017 Lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse menyatakan bahwa 1 persen orang Indonesia menguasai hampir setengah kekayaan di Indonesia atau tepatnya di angka 49,3%. Hasil ini tidak berbeda jauh dengan Laporan Bank Dunia yang menyatakan bahwa 10% penduduk Indonesia menguasai sampai 77% kekayaan di negara ini, sedangkan 1% penduduk Indonesia menguasai 50% kekayaan seluruh negeri ini. Tingginya kesenjangan yang ada di negeri ini menempatkan Indonesia menjadi negara dengan ketimpangan ekonomi tertinggi ke empat di dunia setelah Rusia, India dan Thailand. Kondisi seperti ini sangat jelas membutuhkan berbagai upaya terobosan dan kerja nyata bersama sehingga pemerataan kesejahteraan dapat diwujudkan di negara tercinta ini.

Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar.
La Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillahil Hamdu

Bapak Ibu jamaah sholat Ied yang Allah mulyakan.
Kondisi ketimpangan diatas jelas memerlukan suatu instrumen pada sistem ekonomi di kita yaitu instrumen yang secara struktur ekonomi dapat menghadirkan distribusi yang merata bagi seluruh rakyat. Suatu instrumen pemerataan yang telah jauh hari diperkenalkan oleh Islam adalah apa yang telah kita kenal sebagai Zakat dan Sedekah. Dalam konsep zakat, distribusi pemerataan dan kekayaan telah masuk ke dalam tata aturan pengelolaannya. Subhanallah, begitu tingginya perhatian Islam terhadap pemerataan kesejahteraan ekonomi, sehingga zakat ditempatkan sebagai konsep dasar utama dalam Islam yaitu rukun Islam. Setiap orang Islam juga tidak dapat mengelak dari kewajiban zakat, karena zakat adalah suatu kewajiban yang sudah ditentukan oleh Allah dan Rasulnya.

Dari sisi arti kata Zakat itu sendiri sesungguhnya terdapat hikmah dan makna yang mendalam. Secara bahasa Zakat memilikii beberapa makna yaitu At Thohuru yaitu membersihkan atau menyucikan; Al Barakatu yaitu keberkahan, An Numuw yaitu berkembang cialis 20mg dan As Sholah yaitu membereskan. Arti-arti tersebut secara bahasa memberikan efek positif dari pelaksanaan zakat yaitu:

Pertama, Zakat akan dapat membersihkan dan menyucikan harta yang kita dapat, dan sekaligus membersihkan menyucikan hati setiap orang yang berzakat.

Allah SWT berfirman dalam surat At Taubah ayat 103:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan mereka (yakni membersihkan dari kekikiran dan cinta yang berlebihan terhadap harta benda mereka) dan mensucikan mereka (yakni menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati dan memperkembangkan harta benda mereka) dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Taubah 9 : 103)

Orang yang senantiasa membersihkan hartanya maka mereka juga akan senantiasa dilimpahkan keberkahan oleh Allah SWT. Keberkahan pada harta kekayaannya tentu akan memberikan dampak positif kepada pemiliki harta tersebut yang pada gilirannya akan menciptakan kehidupan yang penuh ketentraman dan ketenangan. Rasulullah SAW bersabda:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا وَبَادِرُوا بِالأعْمَالِ الصَّالِحَةِ قَبْلَ أَنْ تُشْغَلُوا وَصِلُوا الَّذِي بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ رَبِّكُمْ بِكَثْرَةِ ذِكْرِكُمْ لَهُ وَكَثْرَةِ الصَّدَقَةِ فِي السِّرِّ وَالْعَلانِيَةِ تُرْزَقُوا وَتُنْصَرُوا وَتُجْبَرُوا ….

“Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, sebelum kamu mati. Bersegeralah melakukan amalan amalan salih sebelum kamu disibukan dan hubungkanlah antara kamu dengan Tuhan kamu dengan membanyakkan zikir kamu kepadaNya dan banyaklah bersedekah dengan bersembunyi dan terang-terangan, nanti kamu akan diberi rezeki, ditolong dan diberi kesenangan.” (H.R Ibnu Majah dan Baihaqi).

Kedua, Zakat dan sedakah yang dilakukan tidak akan mengurangi harta yang kita miliki justru sebaliknya akan menambah dan melipatgandakan jumlahnya. Rasulullah dalam suatu hadistnya bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“ Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti allah tambahkan kewibawaan baginya. Dan tidaklah seseorang rendah hati karena Allah niscaya Allah akan tinggikan derajatnya. (HR Muslim : 2588).

Rasulullah SAW juga bersabda di dalam hadits Qudsi :

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ : فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ ، إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ ، إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ ؛ وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا ، كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

“Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan, kemudian Rasulullah menjelaskan: “ orang yang meniatkan sebuah kebaikan namun tidak mengamalkannya Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna. Orang yang meniatkan sebuah kebaikan lalu mengamalkannya Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.” (HR Muslim : 131).

Selanjutnya Allah juga berfirman pada surat Al Baqarah ayat 261:

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tunas, pada tiap-tiap tunas berbuah seratus biji. Allah melipat gandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah 2 : 261)

Hikmah Zakat yang selanjutnya adalah yang Ketiga, yaitu zakat adalah instrumen yang dapat menyelesaikan masalah sosial. Hal tersebut mengandung makna bahwa zakat tidak hanya menghadirkan pemeratakan harta tapi zakat juga memiliki spirit memberdayakan kaum dhu’afa. Zakat merupakan mekanisme ilahiah yang bertujuan mendistribusikan kekayaan agar harta tidak hanya menumpuk pada segolongan orang-orang yang mampu saja. Zakat secara spesifik telah menyebutkan peruntukkannya yang terdiri dari orang orang yang memang dalam kondisi kurang produktif dan lemah secara ekonomi.

Allah telah berfirman dalam Quran surat At Taubah ayat 60:
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, Amil zakat, para muallaf, untuk (memerdekakan) hamba sahaya, orang-orang yang berhutang, untuk jihad dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. At-Taubah 9 : 60)

Dengan objek yang sangat spesifik ini sangat jelas bahwa zakat akan mampu memindahkan konsentrasi dan monpoli harta pada segelintir orang kaya untuk dibagikan kepada golongan yang lebih lemah. Sejarah telah mencatat betapa di era pemerintahan Umar bin Abdul Azis, zakat mampu mengentaskan kemiskinan pada zaman itu. Pada saat itu, Umar bin Abdul Azis bahkan mengenalkan konsep baru yaitu zakat produktif, dimana zakat tidak hanya difungsikan sebagai jaring pengaman sosial, namun zakat juga dijadikan sebagai modal kerja untuk berbagai usaha produktif. Pendekatan zakat produktif pada era Umar bin Abdul Aziz ini juga dikombinasikan dengan kebijakan redistribusi lahan yang saat itu sedang gencar dikembangkan. Kedua program ini secara progresif dijalankan oleh Khalifah Umar bin Abdul Azis sehingga menghasilkan pengentasan kemiskinan yang sangat cepat. Khalifah Umar bin Abdul Azis berhasil mengoptimalkan potensi Zakat, Infaq, shadaqoh dan wakaf sebagai kekuatan solusi pengentasan kemiskinan di negerinya. Hal ini terbukti hanya dengan waktu 2 tahun 6 bulan dengan pengelolaan dan sistem yang profesional, komprehensif dan universal membuat negerinya makmur dan sejahtera tanpa ada orang miskin di negerinya.

Peran zakat dan shadaqah sebagai pemerataan sesungguhnya telah dengan jelas Allah sampaikan seperti tertera pada QS Al Hasyr ayat 7:
مَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa saja harta yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka sesungguhnya didistribusikan untuk Allah dan Rasul-Nya, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan; supaya harta tersebut jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kalian saja… (Q.S. Al-Hasyr 59 : 7).

Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar.
La Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillahil Hamdu

Bapak Ibu jamaah sholat Iedul fitri yang dirahmati oleh Allah SWT.
Seiring berjalannya waktu, konsep pemerataan yang diinspirasi oleh zakat ini tidak hanya berkembang di kalangan orang Islam saja. Berbagai kalangan juga menyadari pentingnya pemerataan kekayaan di tengah pertumbuhan ekonomi yang dilakukan. Tidak hanya pemerintah, bahkan kalangan swasta pun juga mengembangkan konsep pemerataan kekayaan ini, yang kemudian kita kenal sebagai konsep CSR (corporate social responsibility). Bahkan kelompok yang selama ini kita kenal sebagai kapitalis yang sangat pro terhadap pasar dan tidak mengenal memberi bantuan kepada kelompok yang lemah secara ekonomi nya pun ternyata juga berpandangan bahwa kepedulian dan pemerataan ekonomi kepada kelompok lemah sebagai program yang perlu dilakukan.
Tengoklah bagaimana Bill Gates dan Warren Buffet dalam sebuah pertemuan para pilantropis di Amerika mengkampanyekan pentingnya CSR dari setiap kekayaan yang didapat oleh para konglemrat tersebut. Bill Gates dan Warren Buffet menyampaikan pentingnya pemerataan ini karena dengan pemerataan maka kelompok yang memiliki daya beli akan semakin bertambah, dan pada gilirannya dengan daya beli yang meningkat, masyarakat kelas ekonomi lemah ini juga akan berbelanja produk-produk yang dihasilkan oleh para pengusaha besar tersebut. Jika ini terjadi, maka pada akhirnya kenaikan pendapatanpun akan dirasakan oleh para pengusaha besar ini.
Konsep ini jelas sekali terlihat sejalan dengan penjelasan sebelumnya bahwa dalam Islam, harta yang dikeluarkan untuk berzakat tidak akan mengurangi kekayaan pemberi zakat itu, namun justru akan menaikkan bahkan melipat gandakan harta kekayaan. Pada akhinya kita semua tentu meyakini bahwa dengan zakat dan CSR yang berjalan secara bersamaan dan dikelola secara profesional sejatinya akan mengurangi ketimpangan yang terjadi.
Saat ini kita melihat dan menyaksikan bahwa sistem ekonomi dunia tidak berhasil menghadirkan kesejahteraan yang merata. Kita melihat dengan jelas ketimpangan ekonomi antara satu belahan dunia dengan belahan dunia lainnya. Ada belahan dunia dengan kemakmuran yang sangat melimpah meski tidak memiliki sumberdaya alam yg memadai, sementara ada negara yg jatuh miskin bahkan kelaparan padahal memiliki sumberdaya alam yang melimpah. Hal ini terjadi selain akibat masih berlangsungnya penjajahan ekonomi juga diakibatkan tidak adanya sistem distribusi kekayaan pada konsep ekonomi saat ini.
Para pemikir ekonomi pemuja pertumbuhan berfikir bahwa hal terpenting adalah mendorong bagaimana ekonomi tumbuh terlebih dahulu, dan jika sudah tumbuh diharapkan akan meneteskan penerataan. Ternyata faktanya, pertumbuhan ekonomi yg ditandai dengan menumpuknya kekayaan pada sekelompok kecil orang tidak kunjung meneteskan pemerataan memadai kepada masyarakat umum. Akibatnya muncul kesenjangan antara kelompok kaya yang jumlahnya sedikit dengan kelompok miskin yang jumlahnya sangat banyak.
Situasi ini sejatinya harus segera diakhiri dengan menghadirkan gagasan gagasan ekonomi yang segar yang bersumber dari agama yang menjadi identitas religiusitas bangsa Indonesia, dan juga yang bersumber dari kearifan bangsa yang kita miliki, sehingga pada gilirannya akan menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang sekaligus meghadirkan pemerataan.
Konsep yang ada dihadapan kita adalah konsep zakat yang berasal dari ajaran Islam. Mengapa zakat? Sebab zakat adalah cara Allah, mekanisme ilahiyyah yang mengharuskan semua pemilik harta mengeluarkan minimal 2,5% untuk pemberdayaan kaum papa yaitu fakir miskin supaya berdaya dan menjadi sejahtera. Zakat juga akan jadi pembersih kekayaan sekaligus juga menjadi penumbuh kekayaan, sehingga pemilik kekayaan juga akan merasa tenang dan tentram dengan kekayaan yang dimilikinya.
Jikalau pajak negara bersifat umum yang diperuntukkan bagi kepentingan negara berupa infrastruktur, gaji pegawai dan kepentingan negara lainnya, sementara zakat spesifik hanya untuk pemberdayaan masyarakat yang tidak mampu supaya menjadi masyarakat yang mampu dan berdaya alias sejahtera.
Konsep lainnya yang ada di hadapan kita adalah konsep ekonomi kerakyatan yg digali dari nilai nilai kegotongroyongan yang berkembang subur sebagai karakter dan identitas diri di negara kita. Konsep ekonomi kerakyatan ini adalah konsep di mana pembangunan ekonomi baik sekala kecil, menengah maupun besar didedikasikan hanya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia. Konsep gotongroyong dalam ekonomi kerakyatan adalah menjadikan Rakyat kita semuanya memiliki akses yang sama terhadap sumberdaya, memiliki akses yang sama terhadap modal, memiliki akses yag sama terhadap lahan dan tanah, dan bekerja bersama sama membangun negeri ini dengan penuh semangat, moral dan professional menuju Negeri yang maju dan sejahtra di bawah naungan keridloan Allah SWT. Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghafur.
Perpaduan antara konsep zakat yang bersumber dari agama dan konsep ekonomi kerakyatan yang bersumber dari nilai nilai kearifan bangsa, insya Allah akan mampu menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dengan pemerataan kesejahteraan yang berkeadilan di negeri kita. Mari kita sebut sistem ekonomi ini dengan sebutan ekonomi Pancasila yang digali dari nilai nilai agama dan nilai nilai kearifan lokal Indonesia.

Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar.
La Ilaaha llallaahu Wallaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillahil Hamdu

Di hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 H ini, mudah-mudahan Allah SWT menguatkan kita semua untuk mampu memahami dengan baik paradigma Islam mengenai zakat, sehingga kita tanpa keraguan dapat mengoptimalkan peran zakat bagi pemerataan ekonnomi dan untuk mengurangi ketimpangan yang ada. Tanpa ragu pula kita pahami ekonomi kerakyatan berbasis gotong royong dan tolong menolong untuk menjadi basis perekonomian nasional untuk menuju Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur.

Perjalanan tidaklah berakhir di hari raya Idul Fitri. Idul Fitri hanya sebuah momentum dimulainya kebangkitan dari jiwa-jiwa baru. Jiwa-jiwa yang tak kenal lelah memperjuangkan nasib ummat dan bangsanya untuk meningkatkan kesejahteraan di satu sisi dan mengurangi ketimpangan ekonomi yang ada di sisi lainnya.

Mentari 1 Syawal 1438 H di ufuk timur, mudah-mudahan menjadi saksi bahwa hari raya Idul Fitri kali ini menjadi tonggak lahirnya sebuah komitmen bersama untuk membangun dunia yang lebih baik. Membangun kesejahteraan yang berkeadilan dan dapat dirasakan oleh semua. Ramadhan dengan jelas mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kesejahteraan dirasakan bersama oleh semua anak bangsa tanpa pilih kasih. Sudah saatnya kesejahteraan dan kesenangan dirasakan oleh semua orang tanpa kecuali. Kita tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Berjalan bersama-sama segalanya terasa ringan. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kemulian kepada Indonesia untuk mengawali perubahan menuju kondisi ekonomi yang berkeadilan dan tanpa ketimpangan. Amiin ya Rabbalalamiin

Leave a Comment